“Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah
tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah”
Tidak terlalu berlebihan jika seorang Crhisye berfatwa
seperti itu dalam lagunya. Memang gak ada yang lebih indah kecuali masa di
sekolah (Mungkin karena sebagian besar anak sekolah belum memikirkan biaya hidup,
tinggal asongkan tangan ke emak-bapak, tiba-tiba uang ada digenggaman). Meski
kisahnya tak selalu indah saat dijalani, tapi terasa indah saat dikenang di
kemudian hari.
Hari itu (Gue masih kelas 1).
Suasana kelas diwarnai isak tangis dari siswi-siswi. Mereka seperti
sedang berjamaah mengiris bawang merah sebanyak dua ton. Sebenernya anak cowok
juga ada yang nangis, tapi karena gengsi, air matanya gak mau keluar, Cuma menimbulkan
efek mata berkaca-kaca yang keren.
Tresia, teman kami sedang sakit parah. Dia terkena
Hepatitis. Sekarang lagi dirawat di rumah sakit Fatmawati. Kata guru yang
sudah menjenguk Tresia, keadaanya sudah sangat parah. Kemudian salah seorang
guru ada yang berkata bahwa mungkin Tresia tidak akan bertahan bahkan sampai
satu minggu ke depan. Hal ini lah yang membuat teman-teman Tresia histeris. Meski
guru lainnya mencoba menenangkan bahwa umur ada di tangan Tuhan. Seberapa keras
dan seberapa parahpun sakit kita, kalau belum ajalnya pasti tidak akan mati.
Sore hari, Aries dan Musliya berangkat jenguk Tresia di
rumah sakit. Sebagai perwakilan siswa karena memang belum ada yang jenguk ke
sana, kecuali si Anto, dia bareng sama guru jenguknya. Waktu itu, denger RS Fatmawati rasanya jauh banget. Gue bahkan gak tahu itu dimana. Jadi yang
berangkat cuma si Aries sama Musilya saja. Kebetulan si Aries tahu rumah sakit
itu (dia pernah di rawat disana), katanya. Meski begitu, tapi ya gak tahu-tahu
banget. Keesokan harinya, mereka cerita bahwa mereka tersesat, salah jalan malah
masuk ke jalan tol. Beruntung lagi gak ada polisi, jadi mereka bisa muter balik
dengan ngelawan arus.
Dua hari kemudian, akhirnya kabar itu sampai juga, Tresia
dipanggil sang Maha Kuasa dengan senyuman. Hampir semua anak di kelasan gue
datang ke rumah duka Tresia. Di sinilah kisah sedihnya dimulai. Ibunda dari
Tresia menyampaikan beberapa pesan terakhir dari Tresia, sebelum dia
menghembuskan nafas terakhirnya. Pesan itu berupa ucapan terima kasih untuk si
Anto, karena dia sudah menjenguk Tresia di rumah sakit. Dan ternyata itu jadi
pertemuan terakhirnya dengan Anto.
Di hadapan jenazah Tresia dan di hadapan semua orang, ibunda
Tresia membawa lembaran-lembaran kertas. Itu adalah diary, lembaran
kisah Tresia. Lalu beliau membacakannya dengan penuh perasaan seakan-akan beliau adalah Tresia. Gue lupa kata-kata persisnya dalam tulisan itu, soalnya banyak
banget. Yang jelas, isi tulisannya membuka kenyataan bahwa selama ini Tresia
sangat mencintai si Anto. Diam-diam Tresia sangat mengagumi Anto. Saat itu, dia
mencoba memberanikan diri mengatakan cinta, tapi terlambat, Anto sudah
berpacaran dengan Vita.
Semua isi hati Tresia tertuang dalam lembaran-lembaran itu.
Kalau saja gue tahu rumah keluarganya Tresia sekarang, gue pengen salin tulisan
itu dan minta izin untuk menambahkannya dalam cerita blog ini.
Ibundanya terus membaca lembar demi lembar. Membuat suasana
semakin haru. Anto pun tak kuasa menahan tangisannya. Dalam tulisan itu, Tresia
selalu berharap, suatu saat nanti dia bisa menyatakan perasaannya kepada Anto, terlebih
lagi cintanya bisa terbalaskan. Meskipun itu sudah terlambat karena Anto sudah
milik Vita.
Kini saat-saat yang diharapkan Tresia tiba, dia bisa menyatakan cintanya kepada Anto. Tapi bukan
Tresia sendiri yang menyatakan, melainkan diwakilkan
oleh ibunya. Sayangnya, kali ini juga Tresia terlambat, sangat terlambat dan bahkan
tak ada lagi kesempatan untuk cintanya terbalaskan.
Selamat jalan Tresia. Semoga kamu bahagia di sana, teman.
Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 7: Lembaran Kisah Tresia)
Reviewed by Al Muh
on
22.55.00
Rating:
Reviewed by Al Muh
on
22.55.00
Rating:

Tidak ada komentar: