Akhirnya
setelah hampir lebih dari tiga bulan membuat janji, Udin bisa bertemu dengan
motivator idolanya. Di rumah motivator itu. Udin diajak ke halaman belakang
rumah yang begitu indah. Ada kolam renang, air mancur serta aquarium raksasa. Tamannya
tertata elegan dengan bunga-bunga yang begitu terawat.
“Silahkan
duduk nak Udin.” Sang motivator yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu mempersilahkan.
“Iya
pak, terima kasih banyak. Senang sekali saya bisa bertemu dengan bapak malam
ini.”
Udin
dan sang motivator duduk di kursi taman. Lalu datang pembantu sang motivator
membawakan minuman dan cemilan.
“Jadi,
kamu kerja dimana Din?”
“Saya
masih mencari pekerjaan pak. Tapi untuk saat ini saya sedang belajar menulis.”
“Oh
ya, bagus itu Din. Menulis akan membuat kita abadi dan punya warisan untuk
dunia ini.”
“Iya
pak.” Udin mengeluarkan buku dalam tas kecilnya. “Saya sudah baca buku yang
bapak tulis ini berkali-kali. Saya sangat suka isinya pak.”
“Syukurlah,
semoga buku itu bisa bermanfaat Din.”
“Apakah
seluruh kisah dalam buku ini kisah nyata pak?”
“100%
kisah nyata Din.”
“Wah,
luar biasa ya pak. Ternyata perjuangan bapak untuk jadi seperti sekarang ini
tidak diraih dengan mudah. Butuh banyak keberanian.”
“Tentu
saja Din, meski sebagian besar orang tak tahu perjuangan saya, yang mereka tahu
adalah saya yang sekarang ini.” Kata sang motivator. “Kamu sudah menikah Din?”
“Belum
pak.”
“Segerakan
din. Dulu saat saya menikah itu saya baru lulus kuliah. Saya tak punya apa-apa.
Bahkan untuk makanpun rasanya sulit sekali. Saya tulis lengkap perjuangan hidup
saya itu dalam buku yang sedang kamu pegang.”
“Iya
pak, saya sudah membacanya.”
“Orang
tua istri saya, waktu itu, bahkan ragu menyerahkan anaknya kepada saya. Beliau
berkata: ‘nanti anak saya mau kamu kasih makan apa? Kamu bahkan tidak kerja.
Masa depan belum jelas sudah berani melamar anak orang.’
Kala itu saya sedih sekali dihina seperti itu, tapi saya jawab dengan tenang:
‘Saya memang tidak bekerja pak, tapi saya punya pekerjaan, yaitu menulis. Dan, bukankah semua orang di dunia ini masa depannya belum jelas pak?’
Orang tua istri saya: 'Penulis? Kamu mau kasih makan anak saya kertas?'
Haha saya selalu ingat kejadian itu Din, terlalu indah tuk dilupakan."
Kala itu saya sedih sekali dihina seperti itu, tapi saya jawab dengan tenang:
‘Saya memang tidak bekerja pak, tapi saya punya pekerjaan, yaitu menulis. Dan, bukankah semua orang di dunia ini masa depannya belum jelas pak?’
Orang tua istri saya: 'Penulis? Kamu mau kasih makan anak saya kertas?'
Haha saya selalu ingat kejadian itu Din, terlalu indah tuk dilupakan."
Udin
terdiam. Hanya menatap kosong sang motivator.
“Tapi sudah punya calon Din?” Tambah sang motivator. “Segerakan lamar Din. Jangan pacaran,
itu hanya menambah dosa.”
“Sudah
ada pak. Mungkin saya orang tak tahu diri. Saya tidak punya apa-apa dalam segi
materil, Ayah saya sudah tidak ada, warisan nihil, bahkan saya kesini, menggunakan
angkutan umum. Tapi saya merasa diri saya ini kaya dalam semangat dan
perjuangan. Saya yakin, dengan izin Allah, kelak saya akan menjadi seorang
penulis hebat seperti bapak. Dan dari buku bapak ini saya belajar pak, lalu
setelah saya mendengar sendiri dari bapak bahwa kisah dalam buku ini adalah
100% nyata, saya ingin melamar malam ini pak.”
“Wah
luar biasa Din. Saya dukung kamu.” Jawab sang motivator sambil menepuk bahu
Udin.
“Saya
ingin melamar putri bapak.”
Seketika
sang motivator tersentak. Dia seperti syok mendengar Udin melamar putri
tunggalnya. Putri kesangannya yang begitu sholehah dan cantik dilamar oleh seorang pemuda pengangguran yang baru belajar menulis. Sang motivator
menundukan kepalanya. Cukup lama, dia terdiam. Udin bisa mendengar Sang motivator
menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Berkali-kali seperti
itu.
Dalam
keadaan menunduk terdengar suara sang motivator, “mungkin ini yang dirasakan mertua
saya sewaktu saya melamar putrinya dulu. Syok karena tiba-tiba ada seorang
pemuda yang…” sang motivator berhenti berucap, menghembuskan napas lagi, lemas.
“Berat
Din,” lanjut sang motivator. “Berat sekali saya untuk menerima lamaran kamu. Saya
selalu berdoa putri saya mendapatkan suami yang baik, paham agama, tampan dan
kaya, agar hidupnya terjamin. Karena saya merasakan betul, bagaimana kepahitan
saya saat baru menikah dulu Din, bisa bertemu makan satu kali sehari saja itu
kami sudah sangat bersyukur. Saya berharap putri saya tidak mengalami kepahitan
seperti itu. Tapi juga saya sadari, justru dengan kepahitan yang kami lalui itu
lah istri saya tumbuh menjadi istri yang sangat hebat luar biasa seperti
sekarang ini. Dan tampaknya, Tuhan menginginkan putri kesayangan saya ini menjadi
seperti ibunya dan mengalami hal yang sama dengan ibunya dulu. Oleh karena itu,
Bismillah, saya menerima lamaran kamu atas putri kesayanganku, Din.”
-Almuh-
MotivAuthor
Reviewed by Al Muh
on
23.04.00
Rating:
Reviewed by Al Muh
on
23.04.00
Rating:

Tidak ada komentar: