Hei! siapa yang menyangka aku akan menjadi seperti ini? Penyakit aneh, penyakit yang tak pernah aku kenal sama sekali, tak pernah aku lihat sebelumnya, kini dia bersarang di dalam tubuhku.
Rasanya aku ingin marah kepada Tuhan. Kenapa aku
diberi penyakit ini, Tuhan? Lihat tubuh mudaku yang masih kekar ini, berubah
menjadi rapuh. Semakin hari penyakit ini menggerogoti tubuhku, satu per satu,
buku per buku jemari tangan dan kakiku dimakannya. Jemari tanganku yang dulu
lincah bekerja mencari nafkah, bermain gitar, kini kaku. Tak mudah ku gerakkan. Sekarang malah sudah copot. Aku tak punya jemari lagi.
Ya, penyakit kusta. Dokter bilang nama penyakitnya adalah
kusta. Penyakit ini yang membuat semua orang menjauh dariku. Tak ada lagi yang
mau berjabat tangan denganku. Melihat aku datang bersilaturahmi saja, mereka
semua berlalu pergi dengan berbagai alasan. Bahkan ada yang terang-terangan
mengusirku.
Aku punya istri yang cantik dan anak yang manis. Tapi setelah
istriku tahu aku sakit, aku tidak bisa bekerja mencari nafkah, dia meninggalkan
aku. Meninggalkan aku dengan cara yang sangat tragis. Dia berselingkuh dengan
tetanggaku sendiri. Awalnya aku tak percaya, aku hanya mendengar desas-desus
tetangga. Hingga akhirnya aku memergoki mereka tengah bercinta. Aku memang sudah
tidak bisa menafkahi dia lahir - batin setelah menderita penyakit ini.
Jangankan untuk menyentuh tubuh cantiknya, mendekat pun aku sudah dilarangnya.
Begitu pula dengan anak semata wayangku. Aku sendiri tak tega menyentuhnya,
menggendongnya, bermain bersama seperti dulu. Karena kata dokter penyakit ini
menular dan belum ada obatnya.
Aku punya rumah. Tapi atas kesepakatan warga dan keluargaku,
aku diasingkan. Mereka semua takut tertular. Aku dibuatkan sebuah gubuk di
tengah kebun, di bawah pohon jambu air. Gubuk yang beralaskan tanah, beratapkan
jerami, yang ketika hujan semuanya jadi becek. Jadi lembap, membuatku semakin
tersiksa.
Oh, Tuhan. Dosa apa aku? Hingga Kau ambil semuanya dariku.
Sungguh aku manusia biasa yang tak tahu apa rencana-Mu di balik semua ini. Tapi aku
juga manusia biasa, yang jujur sepertinya aku tak sanggup menahan beban ini.
Aku pernah mendengar seorang Ustadz berkata bahwa ada
manusia di dunia ini yang Tuhan berikan ujian begitu dahsyat sebagai
percontohon bagi makhluk lainnya. Dan manusia yang dijadikan sebagai
percontohan itu barang pasti akan diganjar pahala tak terhingga. Mungkin, atau
tepatnya aku berdo’a semoga aku adalah salah-satunya.
Saat kalian membaca ini, aku sudah tidak ada. Aku sudah mati
bersama penyakitku ini.
Tidak...tidak! Jangan salahkan para warga apa lagi Tuhan. Aku sudah
ikhlas, beruntunglah aku.
Hiduplah dengan baik teman-temanku. Silaturahmi lah selagi bisa, berjabat tanganlah dengan sesama, sesungguhnya itu nikmat sekali, karena aku tahu rasanya terasingkan.
Hiduplah dengan baik teman-temanku. Silaturahmi lah selagi bisa, berjabat tanganlah dengan sesama, sesungguhnya itu nikmat sekali, karena aku tahu rasanya terasingkan.
Tak perlu lah aku sebutkan namaku, cukup yang menulis ini saja,
adalah teman kecilku, Almuh.
Ujian ini membunuhku?
Reviewed by Al Muh
on
23.27.00
Rating:
Reviewed by Al Muh
on
23.27.00
Rating:

Tidak ada komentar: