Suatu sore. Seorang wanita, aku melihat wanita itu cantik dan
sholehah. Entah bagaimana aku bisa menyimpulkan sebelah pihak bahwa wanita itu
sholehah, mungkin dari caranya berpakaian, rapi menutup semua aurat, tak ada yang
terbuka sedikitpun kecuali parasnya. Cantik, tapi dia tidak mengenakan cadar
seperti yang katanya wanita sholehah lainnya. Pasti dia punya alasan
tersendiri, karena sependek yang aku ketahui, saat sholatpun wajah memang tak
ditutup pun tak apa. Wallahu’alam.
Tapi tak semua wanita yang menutup aurat itu sholehah bukan?
Betul, lantaran sholehah adalah indikator kebatinan yang hanya diketahui oleh Tuhan.
Boleh jadi dia menutup aurat hanya karena modis, atau ikut-ikutan. Tapi itu
lebih baik dari pada tidak sama sekali, bukan? Dan jika ada orang yang
berstatement bahwa menutup aurat belum tentu sholehah, jawabannya “Iya”. Hanya
saja, jika yang menutup aurat saja belum tentu sholehah, apa lagi yang tak
menutup aurat?
Wanita yang kuanggap cantik dan sholehah itu memasang gambar
pada statusnya yang berisi kurang lebih: Jika menginginkan seorang wanita,
dekati ayahnya bukan wanitanya. Aku tertarik dengan gambar itu dan mencoba
mengajaknya berdiskusi. Kadang aku memang suka berdiskusi untuk menambah
wawasan dan menyadari bahwa di dunia ini, setiap kepala selalu berbeda isinya.
Aku bertanya kepada si wanita itu, kenapa harus mendekati
ayahnya dulu, bukan langsung ke wanitanya? Dia pun menjawab karena ayahnya lah
yang memilikinya sebelum seorang laki-laki lain menghalalkannya. Jawabannya membuka
pertanyaan baru yang bisa aku kulik.
Ok gitu ya, jadi kalau saya ambil contoh, misalnya saya ini
menginginkan kamu menjadi isteriku, lalu saya datang ke rumah orang tua kamu,
bertemu ayahmu. Setelah bercakap, misalnya ayahmu menolak saya, apa yang
terjadi? Selesaikah usaha saya? Dan jika ayahmu menerima saya, sementara kamu
tidak tertarik dengan saya, karena saya jelek atau kamu memiliki lelaki yang
kamu sudah tertambat hatinya kepada lelaki itu, bagaimana? Apa kamu akan ikut
keputusan ayah kamu dan mengorbankan perasaan kamu sendiri?
Wanita itu menjawab: Iya juga ya. Ayah saya juga pasti
terserah saya.
Nah lho, kalau begitu
apa gunanya saya mendekati ayahmu dulu sementara keputusan juga ada di tangan
kamu?
Sepertinya si wanita itu agak kebingungan mau menjawab apa
lagi. Lalu dia berkata: Saya tidak suka di dekati pria, jadi lebih baik pria
itu mendekati ayah saya, karena jika ayah saya setuju, pasti beliau punya
pertimbangan yang matang. Saya sebagai anak, hampir selalu sependapat dengan
ayah saya. Dan keputusan ayah saya itu juga pasti akan dikomunikasikan kepada
saya dulu. Gak akan ayah saya mengambil keputusan sebelah pihak tanpa sepengetahuan
saya.
Hihi aku jadi senyum-senyum sendiri mendengar jawabannya. Karena
menurutku itu jawaban yang hampa, tak memiliki dasar yang kuat. Atau mungkin
wanita ini hanya ikut-ikutan tren yang sedang berlangsung saat ini, dimana
pendekatan dan lain halnya mengatasnamakan syar’I yang dia sendiri tak tahu
betul alasan syar’I itu.
Lalu dia melanjutkan jawabannya: dulu waktu saya mau
merantau ke Jakarta, orang tua saya melarang, tapi saya coba bicara baik-baik,
dan akhirnya orang tua saya mau mengizinkan saya.
Aku pun menjawab: Kalau begitu kan bisa saya mendekati kamu
dulu, memastikan kamu tertatik juga sama saya, lalu saya ke orang tua kamu. Dan
kalau orang tua kamu ga setuju sama saya, kan bisa kamu komunikasikan ke beliau
agar beliau bisa setuju. Dari pada saya buang-buang enerji ke orang tua kamu
tapi keputusan akhir tetap ada di tangan kamu. Itu kan namanya PHP?
Debat tak ku teruskan. Sebetulnya aku mengetes saja,
sekaligus survey pendapatnya. Aku paham sih maksud gambar itu dekati ayahnya
bukan wanitanya. Maksudnya adalah hanya lelaki yang serius yang berani langsung
mendekati ayahnya, meskipun ada kemungkinan gak serius juga. Dari pada
laki-laki yang hanya berani mendekati anak wanitanya, tapi sama ayahnya takut, yak
karena tidak lain karena si laki-laki itu belum siap bertanggung jawab dan
belum siap serius. Paling ujung-ujung ngajak pacaran. Bagi sebagian wanita yang
memegang teguh agama, pacaran adalah haram karena pacaran adalah sumber
kemaksiatan. Bagaimana tidak, laki-laki yang belum muhrim bisa jalan bersama,
pegangan tangan, bahkan berzinah. Ya sekuat-kuatnya iman, kalau sudah berduaan
pasti tidak akan sanggup menahan, apa lagi kalau syaiton dan hawa nafsu sudah
berpadu.
Maka dari itulah Allah berfirman dalam ayatnya: … Dan jangalah kamu
mendekati zina… Kenapa Tuhan mengatakan “jangan mendekati zina” bukan langsung “jangan
zina” karena saat seseorang sudah mendekati zina kemungkinan terbesar dia akan
melakukan zina. Jadi ibarat sebuah musuh, zina itu tidak untuk dilawan tapi
dihindari. Saat sudah berhadapan / mendekati zina maka kita tidak akan mempu
melawannya.
Bersambung,
Datangi Ayah Saya
Reviewed by Al Muh
on
17.17.00
Rating:
Reviewed by Al Muh
on
17.17.00
Rating:

Tidak ada komentar: