Minggu sore, gue sama dua orang temen gue, Andri dan Ntris
(dibaca: entris) pergi berkunjung ke sekolah tempat kami menyendok ilmu dulu,
SMA Negeri 1 Ciseeng. SMA yang kami beri julukan SMANCIS 06. Meski sempat ada
sesosok ibu guru yang protes karena angka di belakangnya itu. Beliau bilang: “Kenapa
harus 06 sih? Itu kayak nomor angkot jurusan Parung – Bogor.” Tapi kami tidak
menggubrisnya, ah kami memberi angka itu tanpa makna, hanya terasa enak saja
saat menyebut Smancis Nol Enam. Jadi tanpa pikir panjang kami pakai saja. Entah
sekarang angka itu diganti atau tidak oleh adik-adik kelas kami.
Setelah 5 tahun lebih tak menginjakkan kaki di sekolah ini, Ntris temen gue itu sepertinya kagum banget sama perkembangan pesat dari SMA tercinta yang dulu disebut-sebut sebagai SMA buangan dari SMUN Parung. Bagaimana tidak, hampir 80 persen siswa yang daftar sekolah disini adalah mereka yang tidak diterima sekolah di SMUN Parung dan sekolah unggulan lainnya. Guru-gurunya pun adalah ‘guru pinjaman’ dari SMUN Parung. Hanya ada dua orang guru yang asli mendapatkan SK mengajar di SMANCIS. Sayangnya gue orang yang tidak terlalu pandai mengingat dan menghafal nama, jadi gue gak bisa tulis nama dua orang pelopor guru Smancis itu. Yang jelas gue acungkan empat jempol buat mereka.
Setelah 5 tahun lebih tak menginjakkan kaki di sekolah ini, Ntris temen gue itu sepertinya kagum banget sama perkembangan pesat dari SMA tercinta yang dulu disebut-sebut sebagai SMA buangan dari SMUN Parung. Bagaimana tidak, hampir 80 persen siswa yang daftar sekolah disini adalah mereka yang tidak diterima sekolah di SMUN Parung dan sekolah unggulan lainnya. Guru-gurunya pun adalah ‘guru pinjaman’ dari SMUN Parung. Hanya ada dua orang guru yang asli mendapatkan SK mengajar di SMANCIS. Sayangnya gue orang yang tidak terlalu pandai mengingat dan menghafal nama, jadi gue gak bisa tulis nama dua orang pelopor guru Smancis itu. Yang jelas gue acungkan empat jempol buat mereka.
Mata si Ntris temen gue itu berkaca-kaca. Gue cuma bisa
bilang ke dia, berterima kasihlah kepada tukang bangunan Tris, karena mereka lah
yang membangun Smancis jadi sebesar ini. Hehe…
Tahun ini siswa yang mendaftar sekolah di Smancis sudah
700 orang lebih. Gurunya sudah banyak, baik yang sudah tetap maupun yang
honorer. Gedung bangunan sudah bertingkat, sekelilingnya sudah di pagar. Sudah
ada lapangan futsal, voli, halaman yang luas, parkiran motor yang gak bakalan
abis meski lu bawa motor satu Dealer. Sudah ada mushola juga, luas dan nyaman.
Gue tahu persis sama perkembangan Smancis, bukan karena gue
stalking terus, tapi karena Smancis sama rumah gue itu tetanggaan. Suara bel
bernada Beet Hoppen bisa gue denger setiap jam masuk atau pergantian jam pelajaran.
Bahkan suara derap langkah kaki para siswa juga bisa gue dengar.
Smancis yang sekarang memang belum sepenuhnya sempurna, tapi setidaknya
sudah sangat jauh lebih baik dari apa yang gue rasakan dulu. Coba kita
bandingkan dengan semancis yang dulu. Siswanya masih bisa dihitung dengan jari
(itu kalau lu mau repot-repot ngitung pakai jari di zaman yang sudah canggih
ini). Gurunya lebih lagi, masih bisa dihitung dengan mata merem. Gedungnya masih
numpang di SMP Ciseeng. Tapi itu gak lama, kira-kira 2 tahunan. Lalu kami
pindah ke lokasi dimana semancis berdiri sekarang. Tapi saat itu masih tanah lapang,
hanya ada satu lokal gedung (terdiri dari 4 buah ruang kelas) dengan banyak
sisa-sisa tunggul kelapa di halaman. Karena memang tanah Smancis ini adalah bekas
perkebunan kelapa. Dengan bangga gue bilang perkebunan kelapa itu adalah tempat
gue berpetualang dimasa kecil. Gue harus rela kebun kelapa yang indah itu rata
dengan tanah.
Ruang kelasnya masih kurang, akhirnya satu kelas di skat
menjadi dua bagian. Sebagian untuk ruang guru dan sebagian lagi untuk kelas
gue. Maklum kelas gue paling sedikit siswanya. Waktu itu gue adalah angkatan
IPA pertama di smancis. Dengan sedikit seleksi tes IQ dan nilai raport, terpilihlah
22 orang untuk mengisi kelas IPA perdana itu.
Dulu, punya gedung baru itu rasanya kayak punya rumah
sendiri. Gak ada yang berani nyoret-nyoret dinding atau ngerusak meja atau
lainnya. Hanya saja yang selalu bermasalah itu di toilet. Karena belum adanya
alat pompa air yang memadai. Jadi untuk buang hajat kami harus ke pom bensin
(SPBU) yang ada di jalan raya. Jaraknya cukup jauh, gue pastikan lu bakal berak
dicelana saat menempuh perjalan ke toilet pom bensin itu, kecuali kalau lu
pakai kendaraan. Begitu juga untuk melakukan ibadah sholat, kami harus ke pom
bensin atau ke musola kampung yang letaknya gak jauh dari pom bensin. Sisi paling
indahnya adalah kami anak-anak angkatan pertama Smancis bisa merasakan lapangan
sepak bola yang masih luas. Dimana kami bisa menendang bola
sekencang-kencangnya tanpa khawatir akan kena kaca di gedung kelas.
Diantara hal yang begitu indah tentang kemajuan Smancis,
tersimpan pula sejuta kisah bahagia dan kisah sedih yang kami lalui. Kami menyebut
semua itu ‘Kenangan’. Saat kami membicarakan kenangan itu, mata kami langsung
tertuju pada sebagian taman di depan kelas. Kelas kami dulu. Taman yang
sekarang sudah digantikan oleh sedikit jenis tanaman indah yang dirawat oleh
tukang kebun. Bukan taman yang dulu kami lihat. Taman yang isinya berbagai
jenis tanaman gak jelas karena kami membawanya masing-masing dari rumah. Mungkin
bunga terbaik dari rumah kami masing-masing, kami bawa saat itu. Taman itu dikelilingi
oleh pagar nan sederhana yang terbuat dari bambu. Sebuah taman yang kami buat
bersama-sama, 22 orang dengan suka-cita untuk memperindah depan kelas kami,
agar kami selalu berseri seperti bunga yang baru mekar, atau seperti kupu-kupu
yang terbang bebas. Selain alasan indah itu, kami juga ingin jadi
pemenang dalam lomba membuat taman dalam pelajaran PKLH (Pendidikan
Kelestarian Lingkungan Hidup) waktu itu.
Dari sinilah kisah sedih kami dimulai. Kisah yang tak bisa kami
lupakan sampai saat ini dan mungkin sampai nanti.
Bersambung... :)
Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 1 : Muqoddimah)
Reviewed by Al Muh
on
00.12.00
Rating:
Reviewed by Al Muh
on
00.12.00
Rating:


Tidak ada komentar: